PROFIL SEKOLAH SMP NU 09 ROWOSARI

GAMBARAN UMUM
SMP NU 09 ROWOSARI
  1. Tinjauan Historis

Secara historis berdirinya SMP NU 09 Rowosari Kendal dipelopori oleh Yayasan SMP NU 09 Weleri pada tanggal 1 Juli 1989 di bawah naungan Pendidikan Ma`arif yang mengemban misi Nahdlatul Ulama. Tokoh pendiri SMP NU 09 Rowosari adalah pengurus ranting NU desa Gempolsewu yang dipelopori oleh H. Masyhudi sebagai ketua, H. Affandi sebagai sekretaris, dan H. Nuryatim sebagai bendahara beserta seluruh pengurus ranting NU Gempolsari dan di dukung oleh Gerakan Pemuda Anshor Ranting Gempolsewu. Demi untuk pengembangan lebih lanjut dan pengelolaan yang lebih baik maka para pendiri Yayasan SMP NU 09 Rowosari pada tanggal 3 September 1990 menyerahkan seluruh aset sekolah dipindahkan ke dalam Yayasan di bawah Yayasan Ma`arif NU kabupaten Kendal.

Latar belakang berdirinya SMP NU 09 Rowosari adalah ingin membantu masyarakat di lingkungan desa Gempolsewu dan sekitarnya yang mayoritas penduduknya adalah nelayan karena letak SMP yang ada pada waktu itu sangat jauh dari desa tersebut sehingga banyak anak tamatan SD/MI tidak bisa melanjutkan sekolah karena harus ke kota.

Sedangkan tujuan didirikannya SMP NU 09 Rowosari pada waktu itu adalah:

a. Ikut berperan serta dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya di bidang pendidikan sesuai dengan Pencasila dan UUD 1945.

b.

1

Melestarikan dan mengembangkan ajaran Ahlusunnah Wal Jama`ah yang mempunyai akademis dan keagamaan di tingkat SMP.

c. Mensukseskan program pemerintah dalam melaksanakan wajib belajar 9 tahun[1].

SMP NU 09 merupakan sekolah swasta yang mengajarkan pendidikan agama dan umum. Dalam hal ini yang akan menjadi bahan penelitian adalah pada mata pelajaran PAI.

  1. Letak Geografis

SMP NU 09 Rowosari berada di desa Gempolsewu, kecamatan Rowosari kabupaten Kendal, Propinsi Jawa Tengah. Terletak di pesisir kecamatan Rowosari di lingkungan nelayan 90% dan lingkungan pertanian 10% dan mayoritas penduduknya adalah dari lingkungan keluarga menengah ke bawah dan berpendidikan rendah. SMP NU 09 ini juga merupakan tempat yang sangat strategis di lingkungan masyarakat yang cukup nyaman sehingga sangat mendukung untuk kegiatan belajar peserta didik.[2]

  1. Visi dan Misi Pendidikan SMP NU 09 Rowosari

a. Visi

Unggul dalam prestasi, berwawasan Iptek, berdasarkan Imtaq.

Indikatornya adalah :

1. Unggul dalam prestasi akademik

2. Unggul dalam prestasi komunikasi

3. Unggul dalam prestasi keagamaan

4. Unggul dalam prestasi akhlak

b. Misi

1. Menumbuhkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan keagamaan.

2. Melaksanakan dan mengembangkan budi pekerti yang luhur

3. Meningkatkan profesionalisme guru dalam kegiatan Belajar Mengajar.

4. Menumbuhkan semangat berprestasi, rasa tanggung jawab dan berdisiplin secara intensif bagi guru, karyawan dan peserta didik dalam menjalankan tugasnya masing-masing.

5. Optimalisasi hasil NEM di atas rata-rata daerah.

6. Memiliki andalan khusus di bidang olah raga, kesenian, ketrampilan, kepanduan kepramukaan, dan Palang Merah Remaja (PMR) dan keagamaan sebagai kader bangsa.

7. Memelihara dan meningkatkan ketertiban, keamanan, kebersihan, keindahan dan kekeluargaan di sekolah.

8. Memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang cukup untuk menunjang kegiatan akademik sebagai dasar menuju pencapaian profesionalisme yang semakin mantap, kreatif dan inovatif.

c. Tujuan Sekolah.

Tujuan yang akan dicapai selama 5 tahun mendatang adalah :

1. Meningkatkan Skor (GSA) rata-rata mapel + 1.

2. Menjadi juara II lomba olahraga tingkat kabupaten, lomba pramuka dan PMR.

3. Meningkatkan skor rata-rata mata pelajaran dari 0,1 sampai 0,3.

4. Tim MTQ yang menjadi juara tingkat kecamatan.

5. 95% peserta didik melaksanakan ibadah dengan cara yang benar dan istiqomah.

  1. Struktur Organisasi

Sebagai salah satu lembaga formal, SMP NU 09 Rowosari tidak dapat dilepaskan dari sistem menejemen atau sering disebut dengan organisasi. Organisasi berfungsi memberi struktur, menetapkan hubungan antara seorang dengan orang lain dalam suatu kegiatan, sehingga menjadi satu kesatuan yang dijalankan dengan menjalin kerjasama antara semua personalia untuk mencapai tujuan sekolah.

Adapun struktur organisasi SMP NU 09 Rowosari secara operasional dapat digambarkan sebagai berikut :

STRUKTUR ORGANISASI

SMP NU 09 ROWOSARI [3]

clip_image001

  1. Pelayanan Pendidikan Di SMP NU 09 Rowosari

SMP NU 09 menyelenggarakan jenis pelayanan pendidikan yaitu kelas reguler. Kelas reguler menyelenggarakan pelayanan pendidikan seperti sekolah umum yang lain.

a. Fasilitas yang dimiliki

Fasilitas yang ada di SMP NU 09 Rowosari adalah rombongan belajar dengan 15 Ruang kelas, 1 Ruang guru, 1 Ruang Komputer, 1 Ruang UKS, 1 Laborat Komputer untuk pembelajaran dan 1 ruang perpustakaan sedangkan ruang laboratorium Bahasa dalam taraf penataan, Perpustakaan sekolah dengan koleksi 865 buah terdiri dari 483 judul, 1 musholla, dilengkapi kamar mandi dan WC yang cukup memadai, ada WC khusus untuk guru dan ada yang untuk peserta didik.

Adapun perlengkapan pembelajaran di kelas yang dimiliki meliputi Tape recorder, 2 Televisi, 15 audio visual serta perlengkapan olah raga yang cukup, yakni bola sepak 10 buah, bola volley 6 buah, lempar cakram 6 buah serta lapangan voly di halaman sekolah.

Untuk arena kegiatan peserta didik, SMP NU 09 Rowosari memiliki halaman yang cukup luas yaitu halaman luar dan halaman dalam yang cukup untuk kegiatan peserta didik.

b. Kegiatan Extra Kurikuler

Kegiatan extra kurikuler yang ada meliputi Komputer, Pramuka, UKS (PMR), Seni Musik, Bola Basket, Drum band, Bola Voli dan Pencak Silat (SH Teratai).

Pemandu dan staff pengajar extra kurikuler diambil dari guru yang kompeten dibidangnya serta tenaga dari luar yang benar-benar memiliki kompetensi pada bidang masing-masing. Sedangkan untuk penyelenggaraan kegiatan extra kurikuler murid tidak lagi dikenai iuran tambahan. Biaya diambilkan dari biaya operasional sekolah dan iuran bulanan dari orang tua peserta didik.[4]

Adapun jadwal kegiatan Ektrakurikuler yang ada di SMP NU 09 Rowosari adalah sebagai berikut:

No

Jenis Ektrakurikuler

Jadwal Latihan

Pembina/Pelatih

1

Pramuka

Jum`at Sore

Muhlisin

2

Drumband

Minggu pagi

Ahmad Fauzan

3

PMR

Jum`at Sore

Winarno

4

Terbangan

Kamis sore

Ircham

5

Seni Baca Al-Qur`an

Rabo Sore

Drs. Ghofirin

6

Volly ball

Sabtu Sore

Arif NF

7

Pencak Silat

Selasa Sore

Abdul Muhith

8

Komputer

Senin Sore

Rudy Pujihanto

6. Komponen Program Kelas Unggulan

a. Keadaan Guru

Guru merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam proses pembelajaran, tanpa meninggalkan faktor pendukung lain yang ada dalam pembelajaran tersebut. Pada tahun ajaran 2007/2008 pada program kelas unggulan terdapat 14 guru/tenaga pendidik. Adapun secara rinci data seluruh guru pengampu pelajaran pada SMP NU 09 Rowosari akan diuraikan dalam tabel di bawah ini :

Data Kepala Sekolah dan

Guru/Tenaga Pendidik SMP NU 09 Rowosari

No

Nama

Jabatan

Ijazah

Mengajar

1

Drs. H. Slamet Riyadi

Kep. Sekolah

S1 IIWS PAI

2

Drs. Rudy Pujihanto

Wakasek

S1 IKIP PMP

PKN

3

Achmad Fauzi

Ur. Kurikulum

D3 IKIP Teknik

Matematika

4

M. Syafi`i, BA

BP/BK

D3 IKIP IPS

IPS

5

Drs. Ghofirin

Ur. Kesiswaan

S1 IAIN PAI

PAI

6

Sodiqin

Ur. Sarpras

D3 IKIP

Biologi

7

Suslikah, S.Pd

BP/BK

S1 IKIP BP

Tata Boga

8

Sunar, S.Pd.I

Staff BP/BK

S1 WS PAI

B. Inggris

9

Drs. Jamsari

Guru

S1 IAIN B Arab

PAI

10

Drs. H. Mahlum

Guru

S1 IAIN PAI

PAI

11

Dra. Zaenah

Guru

S1 IAIN PAI

PAI

12

Eni Purwanti, S.Pd

Guru

S1 IKIP PMP

PPKn

13

Suprayit, S.Pd

Ur.Pembukuan

S1 IKIP Matk

Matematika

14

Drs. Mulyono

Perpustakaan

S1 IKIP PMP

B. Indo

15

Rohmatun N, S.Ag

Guru

S1 IKIP B. Ind

B. Indo

16

St. Nur Latifah, S.Ag

Guru

S1 Unissulla PAI

PAI

17

Mukhlisin, S.Pd

Guru

S1 IKIP Mat

Matematika

18

Bani Ardi, S.Pd

Guru

S1 IKIP Olah Rg

Penjaskes

19

Erna Anawati, S.Pd

Guru

S1 IKIP Kesnian

Kertangkes

20

B. Pramono, S.Pd

Guru

S1 IKIP Matk

Komputer

21

Sutrimo

Guru

D3 IKIP Elektro

Kertangkes

22

Widodo, S.Pd

Guru

S1 IKIP Olah Rg

Penjaskes

23

Cahyu Nurindria, S.Pd

Guru

S1 UNISMA Ing

B. Inggris

24

Suprayitno, S.Pd

Guru

S1 IKIP Biolgi

Biologi

25

Damiri

Kapala TU

SMA

26

Jumiati

Staf Tata Usaha

SMA

27

Khoeroh Yaroh

Staf Tata Usaha

SMA

28

Fajar Agus R

Staf Tata Usaha

SMA

29

Mahyan

Penjaga

SMA

30

Wawan T

Pesuruh

 

31

Kaswati

Penjaga

 

Dengan melihat data guru dan tenaga pendidikan yang ada, maka kompetensi guru dan profesionalisme guru dalam mengajar pelajaran di kelas dapat diandalkan karena hanya beberapa guru saja yang miss-match (mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni dan gelar kesarjaan yang dimiliki) seperti guru matematika yang mengajar komputer (B. Pramono), guru BP yang mengajar Tataboga (Suslikah,S.Pd) dan guru PKn (dulu mapel PMP) yang mengajar Bahasa Indonesia (Drs. Mulyono) dan guru PKn (PMP) yang mengajar kertangkes (Drs. Rudy Pujihanto). Walaupun demikian, untuk mata pelajaran yang menjadi objek penelitian ini (pelajaran Pendidikan Agama Islam) seluruh guru yang ada secara standart prefesionalitas dan kompetensi sudah memenuhi standart minimal yaitu mengajar sesuai dengan bidang studi yang kuasainya dan sesuai dengan gelar kesarjanaan yang dimilikinya. Untuk guru yang tidak sesuai dengan standart profesionalnya tidak digunakan dalam mengajar dan menangani program siswa kelas Unggulan.

b. Peran Wali Kelas dan Bimbingan Konseling

Siswa peserta program kelas unggulan di samping kemampuan intelektual pribadinya yang lumayan tinggi, waktu belajarnya pun harus ditempuh dengan cepat sehingga ada konsekuensi-konsekuensi yang harus dipenuhi. Hal ini dilakukan karena jika nantinya memang program ini dianggap berhasil (dengan nilai seluruh mata pelajaran peserta didik tergolong tinggi dan siswanya siap) peserta didik program tersebut akan diikutsertakan dalam program yang diperbolehkan menurut kurikulum terbaru KTSP yakni program akselerasi (percepatan waktu belajar). Oleh karena itu, ada bebarapa konsekuensi yang harus dipenuhi yaitu perlunya pendampingan dan pengawasan ketat dari wali kelas dan guru Bimbingan dan Konseling. Hal ini diperlukan karena peserta didik usia SMP dengan program ini masih merupakan hal baru dan masih harus banyak beradaptasi. Masalah-masalah yang kemungkinan akan timbul antara lain kegelisahan peserta didik yang mendapat nilai kurang memuaskan, rendah diri, kompetisi yang sangat ketat (kemampuan peserta didiknya hampir seimbang), dan yang tidak kalah penting adalah masalah kesehatan fisik peserta didik. Kekhawatiran tersebut menuntut peran aktif wali kelas dan guru bimbingan konseling untuk bersikap proaktif dalam menangani peserta didik program kelas unggulan sehingga perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Komunikasi rutin dengan orang tua peserta didik untuk mendengar keluhan dan masukan yang dapat memperlancar kegiatan peserta didik.

2) Memantau kegiatan belajar dan aktivitas peserta didik baik saat mengikuti kegiatan intra maupun ekstra kurikuler.

3) Memberi masukan dan rujukan baik kepada orang tua maupun peserta didik jika ditemukan hal-hal perilaku yang diduga akan mengganggu kegiatan belajar mengajar.

4) Menghubungi dokter yang ditunjuk jika ada peserta didik yang memerlukan penanganan kesehatan sehingga sendini mungkin gangguan kesehatan peserta didik dapat teratasi.

5) Wali kelas dan guru Bimbingan Konseling berusaha mendapatkan informasi dari segenap guru mata pelajaran pengampu program kelas Unggulan untuk mengetahui permasalahan dan melakukan tindakan pencegahan terhadap suatu masalah yang akan timbul, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar dan sesuai dengan rencana yang diharapkan.

Tindakan dari wali kelas dan guru Bimbingan dan Konseling dalam rangka memahami kondisi peserta didik adalah dengan cara membuat pengumpul data dan cara ini diharapkan dapat merekam seluruh aktivitas peserta didik dengan segala permasalahan dan pencegahannya.

c. Keberadaan Komite Sekolah

Dukungan dan partisipasi aktif dari komite sekolah sangat diperlukan demi suksesnya program kelas unggulan ini. Keberadaan komite sekolah sangat penting karena mempunyai tugas membantu penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di sekolah dan ikut memelihara, menumbuhkan, meningkatkan serta mengembangkan sekolah. Komite juga mempunyai wewenang mengadakan hubungan atau kerja sama dengan orang tua, warga sekolah, masyarakat, pemerintah dan dunia usaha yang terkait serta mewakili orang tua dalam kegiatan yang berkaitan dengan tugas komite sekolah baik di dalam maupun di luar sekolah.

d. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana belajar yang mendukung program kelas unggulan di SMP NU 09 Rowosari antara lain:

Data Kondisi Alat Bantu Pendidikan

Penunjang Layanan Program Kelas Unggulan

No

Nama Jenis Alat Bantu Pendidikan

Jml

Kondisi Unit

Tahun

Pengadaan

Baik

Rusak Sedang

Rusak Berat

1

Televisi

1

2002

2

VCD

1

2002

3

KIT IPA

1

2002

4

Peta

9

2002

5

Box Karaoke

2

2005

6

Mic Wereless

5

2005

7

Microscoup

2

2005

8

Gambar Alat Bantu PAI

3

2005

B. Gambaran Umum SMP NU 09 Rowosari

1. Latar Belakang SMP NU 09 Rowosari

Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan globalisasi informasi yang berkembang pesat, menuntut para praktisi pendidikan untuk dapat menghadapi dan menyiapkan sumber yang mampu menghadapi tantangan zaman serta mampu berkompetisi tidak hanya di dalam negeri tetapi juga dikancah persaingan global yang mendunia. Hal ini sangat mendesak untuk segera dilakukan agar bangsa Indonesia tidak tertinggal jauh dalam segala hal dengan negara-negara lain. Aktualisasi penyelenggaraan pendidikan perlu dilakukan dengan cara memberdayakan seluruh potensi yang dimiliki sehingga dapat dijadikan daya dukung keberhasilan pencapaian sumber daya manusia yang berkualitas.

Realita di masyarakat, sumber daya manusia yang diharapkan yang memiliki kemampuan dan kualitas belum tersentuh secara maksimal oleh dunia pendidikan, khususnya institusi sekolah. Untuk itu, sekolah harus bangkit bersama semua pihak yang merasa memiliki tanggung jawab kepada keselamatan bangsa ini agar saling bahu membahu memperhatikan dan menangani dunia pendidikan sebagai investasi masa depan bangsa yang nantinya dapat melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang berprestasi tinggi, intelektual dan memiliki moral serta berbudi pekerti luhur dengan menjunjung tinggi adat dan budaya bangsa kita.

SMP NU 09 Rowosari memiliki tanggung jawab besar untuk menyikapi dan tampil ke depan sebagai pelopor melayani masyarakat dan telah memberi predikat sebagai sekolah pelayan masyarakat, sehingga SMP NU 09 Rowosari dituntut untuk selalu tampil dengan prestasi tinggi dan mengevaluasi diri untuk tetap dapat menjaga predikat dan kepercayaan masyarakat tersebut.

Berdasarkan pengalaman dalam menangani proses pendidikan, ditemukan adanya peserta didik yang memiliki kemampuan lebih cepat yang ternyata dalam proses belajar mengajar secara regular, peserta didik tersebut tidak dapat dikembangkan optimal. peserta didik yang memiliki bakat dan kecerdasan lebih cepat jauh di atas normal cenderung lebih cepat menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Akibatnya peserta didik tersebut akan menunggu peserta didik yang lain yang lebih lamban darinya. Keadaan ini memungkinkan munculnya perilaku yang kurang baik dari peserta didik dan merugikan peserta didik tersebut.

Siswa yang memiliki kemampuan lebih cepat, sering santai dan nampak kurang memperhatikan pelajaran karena dianggap pelajarannya terlalu mudah. Hal ini akan lebih buruk lagi jika peserta didik tersebut mengganggu teman yang lain, sehingga kegitan belajar mengajar menjadi kurang efektif. Dari ilustrasi di atas, peserta didik yang memiliki kemampuan lebih cepat perlu mendapatkan penanganan dan program khusus agar dapat berkembang secara alamiah dan optimal.

2. Pelaksanaan Program

a. Kesiapan dalam Pembelajaran

Dalam pelaksanaan pembelajaran PAI di sekolah agar dapat berhasil dengan baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka diperlukan kesiapan dari masing-masing komponen pembelajaran seperti kesiapan guru, kesiapan peserta didik dan kesiapan sarana-prasarana belajar. Kesiapan pembelajaran ini merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebelum pelaksanaan proses belajar-mengajar, agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif.

1) Kesiapan Guru

Dalam pelaksanaan efektivitas pembelajaran PAI pada kelas Ungulan, guru merupakan salah satu komponen pembelajaran yang penting, berdasarkan pada buku Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar (SD, SMP dan SMA) Direktorat Pendidikan Luar Biasa, Depdiknas, syarat-syarat untuk menjadi guru pada program belajar kelas unggulan adalah sebagai berikut:

a) Guru memiliki tingkat pendidikan yang dipersyaratkan sesuai dengan jenjang sekolah yang diajarkan, yaitu sekurang-kurangnya S1 untuk guru SD.

b) Guru mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

c) Guru memiliki pengalaman mengajar di kelas reguler sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun dengan prestasi yang baik.

d) Guru memiliki pengetahuan pemahaman tentang anak berkemampuan dan berkecerdasan luar biasa secara umum dan program percepatan belajar pada khususnya.

e) Guru memiliki kompetensi dalam profesinya baik kompetensi individual, sosial dan profesional.

Selain ke lima poin di atas, ada satu hal yang harus dipersiapkan guru dalam pembelajaran agar lebih sistematis dan lebih terarah yaitu mempersiapkan rencana pembelajaran yang tertuang dalam program tahunan, program semesteran dan satuan pelajaran.

Pelajaran PAI di kelas unggulan ini diampu oleh guru yang bernama Bapak Drs. H. Mahlum dan Bapak Drs. Ghofirin. Untuk mengetahui lebih jelas tentang profil dan spesifikasi para guru tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

Latar Belakang Pendidikan Guru PAI Kelas

Nama

Pendidikan

Mengajar

Pengalaman Mengajar

Drs. H. Mahlum

S 1

Tarbiyah IAIN

PAI

1990/18 thn

Drs. Ghofirin

S 1

Tarbiyah IAIN

PAI

1993/15 thn

Dan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa guru yang mengajar PAI kelas unggulan memang telah siap menjadi pengajar PAI di kelas tersebut karena telah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam buku Pedoman Penyelenggaraan program belajar kelas unggulan(SD, SLTP, dan SMA) Direktorat Pendidikan Luar Biasa, Depdiknas.

Dari hasil wawancara[5] dengan para guru tersebut, mereka paham benar tentang anak berkemampuan dan berkecerdasan luar biasa secara umum dan program kelas secara khusus. Sehingga pemahaman tentang hal tersebut diterapkannya dalam proses belajar mengajar di kelas .

2) Kesiapan peserta didik

Dalam pelaksanaan efektivitas pembelajaran PAI di kelas unggulan, peserta didik merupakan salah satu komponen pembelajaran yang penting. Pada komponen peserta didik evaluasi digunakan untuk menggali karakteristik peserta didik yang meliputi: seleksi penerimaan, adanya minat, semangat dan motivasi yang tinggi untuk belajar PAI Seleksi penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik peserta program belajar kelas unggulan dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

a) Pendataan peserta didik

Sejak SMP NU 09 Rowosari diberikan kesempatan untuk menyelenggarakan program belajar, peserta didik kelas VIII dari SMP NU 09 Rowosari yang memiliki nilai rata-rata rapor sekurang-kurangnya 7,0 dimasukkan ke data komputer sekolah untuk inventarisasi calon input program dan selanjutnya peserta didik tersebut diadakan pengamatan lapangan dan pemantauan.

b) Pengamatan Guru dan Guru mata Pelajaran

Siswa yang telah terjaring prestasi akademiknya akan di pantau sejauh mana perilaku dan sikapnya selama mengikuti proses belajar di kelas. Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam pengamatan guru dan guru mata pelajaran sebagai berikut:

1) Tanggung jawab terhadap tugas yang diberitahukan guru

2) Kerja sama dalam bergaul baik di dalam maupun di luar kelas

3) Kesungguhan dalam mengikuti pelajaran

4) Kondisi kesehatan peserta didik dalam kesehariannya

5) Hal lain yang masih dapat di pertimbangkan untuk kepentingan calon peserta didik yang nantinya dapat mengikuti program belajar.

c) Informasi dari Orang Tua

Setelah calon peserta terjaring dan masuk nominasi program belajar, dibutuhkan informasi dari orang tua tentang kondisi keseharian peserta didik di luar sekolah, khususnya di rumah antara lain kemandirian dalam belajar, tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, kreativtas, ide/gagasan, aktivitas yang di lakukan dan kesehatan fisik sangat penting, karena ke depan orang tua sendirilah yang harus ikut bertanggung jawab tentang kelangsungan putra-putrinya. Resiko informasi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya dapat berakibat gagalnya peserta didik mengikuti program belajar.

d) Pelaksanaan Tes

Penyaringan dilakukan dengan cara melakukan seleksi yang meliputi administrasi (nilai rapor), tes akademis, tes psikologis (IQ, EQ, TC dan Psikolog), dan tes kesehatan dari dokter yang ditunjuk oleh sekolah. Hal ini untuk menekan subjektivitas hasil penyaringan atau seleksi. Adapun ketentuan yang menjadi pertimbangan keputusan SMP NU 09 Rowosari dalam memilih calon peserta didik program belajar kelas unggulansebagai berikut:

(1) Informasi data objektif yang diperoleh dari pihak sekolah berupa skor akademis dari pihak psikolog (guru BK) berupa skor hasil pemeriksaan psikologis.

(a) Akademis, yang di peroleh dari :

ü Tes kemampuan akademis, khusus mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia nilai sekurang-kurangnya 7,0

ü Rapor, nilai rata-rata seluruh mata pelajaran tidak kurang dari 7,0

(b) Psikologis, yang di peroleh dari hasil pemeriksaan psikologis yang meliputi tes berikut :

ü Tes Intelegensi Umum

ü Tes kreativitas

ü Inventori keterikatan terhadap tugas belajar.

(2) Informasi data subjektif, yaitu nominasi yang di peroleh dari diri sendiri (Self Nomination), teman-teman sebaya (Peer Nomination), orang tua (Parent Nomination), dan guru (Teacher Nomination) sebagai hasil dari pengamatan dari sejumlah ciri-ciri keberbakatan peserta didik.

(3) Kesehatan Fisik yang ditujukan dengan surat keterangan sehat dari dokter.

Hasil dari tes tersebut dibandingkan dengan catatan hasil pengamatan selanjutnya dijadikan penentu dapat atau tidaknya seorang peserta didik mengikuti program belajar. Langkah ini penting dilakukan karena hasil seleksi atau tes merupakan salah satu penentu keberhasilan seorang peserta didik menyelesaikan program belajar.

e) Pemberitahuan dan Penawaran

Langkah selanjutnya setelah tes dilakukan adalah pemberitahuan kepada orang tua yang anaknya dapat di terima untuk mengikuti program belajar. Untuk keperluan ini pihak sekolah memanggil peserta didik yang telah lulus seleksi dengan orang tuanya untuk mendapat arahan dan ketentuan-ketentuan yang harus disepakati bersama dan konsekwensinya. Titik berat penjelasan di sini adalah tentang ketentuan pelaksanaan yang harus diikuti peserta didik dan diketahui orang tua selama mengikuti program belajar. Setelah terjadi kesepakatan bersama, orang tua menandatangani surat pernyataan untuk mengikuti program belajar.

f) Pengelompokan peserta didik

Siswa yang telah dinyatakan dapat mengikuti program belajar kelas unggulan yang ditentukan melalui berbagai macam tes, dikelompokkan dalam kelas tersendiri karena peserta didik ini memiliki kecerdasan dan kecepetan belajar yang berbeda dengan peserta didik di kelas reguler lainnya. Tindakan ini dilakukan agar mereka dapat mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan perkembangan dan kemampuan berpikirnya sehingga mereka dapat mengoptimalkan kemampuannya secara alami.

g) Penentuan dan Kesepakatan.

Penyelenggaraan program belajar kelas unggulan sangat membutuhkan sarana dan prasarana belajar yang memadai, kesejahteraan tenaga kependidikan, di samping kegiatan peserta didik itu sendiri selama mengikuti program percepatan belajar. Hal ini menjadi konsekuensi dari orang tua untuk mendukung dan menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan program belajar kelas unggulan karena program ini tidak mendapat subsidi dari pemerintah. Penentuan kesepakatan di sini dititikberatkan pada pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana belajar seperti alat peraga, fasilitas belajar dan mengajar, kenyamanan ruang belajar, kesejahteraan guru dalam mengajar, buku-buku pendamping, referensi pembuatan modul dan lembar kerja peserta didik, kunjungan peserta didik ke berbagai objek dan sumber belajar, lomba-lomba, studi banding, konsultasi ke ahli pendidikan baik praktik maupun dari akademisi, dan kegiatan lainnya.

  1. Kesiapan Sarana dan Pembelajaran

Untuk menuju suatu pembelajaran yang efektif, ketersediaannya sarana pembelajaran suatu lembaga pendidikan sangat besar pengaruhnya. Pembelajaran PAI di kelas yang menuntut pelaksanaan pembelajaran secara singkat dan cepat sangat membutuhkan adanya sarana belajar yang memadai untuk membantu proses belajar mengajar PAI agar dapat berjalan dengan efektif.

1) Ruang belajar

Ruang belajar yang disediakan untuk pembelajaran PAI dan pembelajaran mata pelajaran yang lain di kelas adalah cukup represantatif. Ruang belajar yang cukup luas (7 x 8 m) sebagai kapasitas ruangan peserta didik terdiri dari 30-33 peserta didik. [6]

Dari data di atas menunjukkan bahwa ruang kelas dalam kategori baik (nyaman). Hal tersebut jelas bahwa 100 % dari mereka mengatakan kelasnya nyaman dikarenakan ruangan yang tepat sesuai dengan kapasitas peserta didik dan fasilitas yang memadai.

2) Alat Bantu/Media Pembelajaran

Penggunaan alat bantu/media pembelajaran dalam proses belajar mengajar adalah penting. Alat bantu/media pembelajaran dapat membantu menyalurkan pesan, merangsang pikiran. Perasaan dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta didik.

Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan peserta didik untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Seperti data diatas menunjukkan penggunaan media/ alat bantu akan sangat membantu dalam pembelajaran.

3) Buku-buku pembelajaran

Buku merupakan sumber informasi dan memberi kontribusi secara substansi dalam belajar. Buku-buku yang ada harus bisa memberikan layanan untuk dapat mengorganisasikan informasi memberikan tekanan pada konsep yang penting, memberikan aktivitas secara langsung dan memiliki sejumlah tujuan untuk belajar PAI secara khusus. SMP NU 09 Rowosari telah menyediakan buku teks PAI terbitan DEPAG untuk sebanyak sejumlah peserta didik. Selain buku teks juga disediakan buku-buku yang lain seperti buku-buku keagamaan maupun majalah-majalah keagamaan.

Namun dengan adanya perpustaakn tersebut nampaknya para peserta didik belum bisa memanfaatkan secara maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa untuk kesiapan sarana pembelajaran khususnya perpustakaan sebagai fasilitas belajar masih belum dapat dipergunakan oleh peserta didik secara maksimal. Untuk itu diharapkan ada penyuluhan tentang manfaat dari fasilitas tersebut.

3. Proses Belajar Mengajar

Semua potensi dan pendukung dalam kegiatan proses belajar mengajar yang dimiliki diberdayakan semaksimal mungkin guna melayani program belajar kelas unggulan yang diharapkan dapat mencapai hasil yang optimal. Semua potensi dan pendukung proses belajar mengajar meliputi :

1. Kurikulum

Kurikulum program belajar kelas unggulan adalah kurikulum nasional tahun 2006 (yaitu KTSP) dengan tetap berbasis pada pendidikan PAI berbasis kompetensi, kurikulum lokal, dan kurikulum berdeferensiasi dengan penekanan pada materi esensial dan dikembangkan melalui peserta didik aktif belajar yang dapat memacu dan mewadahi intregrasi antara pengembangan spiritual, logikal, etika, dan estetika serta dapat mengembangkan kemampuan berfikir holistik, kreatif, sistemik, linier, dan konvergen. Untuk memenuhi tuntutan pendidikan masa kini dan mendatang langkah-langkah yang diperlukan adalah sebagai berikut :

a) Menganalisis materi setiap pokok bahasan dan sub pokok bahasan.

b) Mengelompokkan materi menurut bobot isi materi, sehingga dapat ditentukan materi mana yang harus dilakukan penyampaiannya cukup dengan pemberian tugas atau modul.

c) Penyebaran alokasi waktu yang tersedia secara proporsional pada setiap pokok bahasan.

d) Menetapkan target kurikulum pada setiap satuan waktu belajar/catur wulan sesuai dengan kalender pendidikan yang ada.

e) Menyusun administrasi pembelajaran meliputi program tahunan program catur wulan, program satuan pembelajaran, rencana pengajaran dengan mempertimbangkan kemampuan dan karakter belajar peserta didik.

Pembahasan kurikulum tidak terlepas dari materi. Materi adalah sesuatu yang menjadi bahan pembelajaran yang disajikan guru agar dikuasai oleh peserta didik. Ruang lingkup materi PAI mencakup usaha mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah, dengan manusia dan dengan makhluk lain serta lingkungan.

Adapun materi yang dijadikan bahan pembelajaran PAI di SMP NU 09 Rowosari adalah sebagai berikut:

Garis Besar Program Pengajaran Materi PAI SMP NU 09 Rowosari

No

Aspek

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

1.

Al-Qur’an

Ø Membaca dan menulis Al-Qur’an permulaan

Ø Surat pilihan antara lain surat al-Falaq

Ø Menulis permulaan surat al-falaq

Ø Hafalan surat al-Kafirun

Ø Membaca dan menulis Al-Qur’an dengan benar

Ø Surat pilihan antara lain surat al-Humazah

Ø Membaca dan hafal surat al-Lahab

Ø Surat al-Lahab

Keimanan

Ø Beriman kepada Allah dengan mengenal sifat-sifat wajib bagi Allah

Ø Sepuluh sifat-sifat Allah

Ø Beriman kepada Malikat danmengenal namanam serta tugas-tugasnya

Ø Nama Malaikat serta tugas-tugasnya

Akhlak

Ø Meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS

Ø Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail

Ø Terbiasa bertatakrama terhadap guru dan tetangga

Ø Sikap hormat dan santun kepada guru

Ø Sikap hormat dan santun kepada tetangga

Ibadah

Ø Melaksanakan shalat dengan sempurna dan mengerti syarat syah serta membatalkanya

Ø Bacaan, gerakan, rukun, syarat sah dan hal-hal yang membatalkan shalat

Ø Melakukan adzan dan iqamah sebelum shalat dengan benar

Ø Lafal adzan dan iqamah

No

Aspek

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

2

Al-Qur’an

Ø Membaca dan hafal surat al-Maun

Ø Surat al-Maun

Ø Surat al-Fiil

Ø Membaca dan hafal surat al-Qura’isy

Ø Surat al-Quraisy

Keimanan

Ø Beriman kepada kitab suci dan nama Rasul yang menemaninya

Ø Nama-nama kitab suci

Ø Beriman kepada Rasul Allah SWT

Ø Nama-nama rasul Allah SWT

Ø Nama-nama Rasul Ulul Azmi

Ø Membedakan antar Nabi dan Rasul

Akhlak

Ø Meneladani ketaatan Nabi Ayub AS

Ø Kisah Nabi Ayub AS ketika menderita sakit

Ø Berperilaku disiplin dan tolong menolong

Ø Sikap disiplin dn tolong-menolong

Ø Menghindari sikap dan perilaku suka mengambil milik orang lain (mencuri)

Ø Menghindari perilaku mencuri

Ø Menghindari sikap dan perilaku lalai

Ø Menghindari sikap lalai

Ibadah

Ø Melakukan puasa Ramadhan

Ø Puasa Ramadhan dan puasa sunah

2. Metode Pembelajaran

Salah satu faktor yang penting dan tidak boleh diabaikan dalam pelaksanaan pembelajaran PAI adalah adanya metode yang tepat untuk mentransfer materi PAI. Materi yang pada kenyataannya beraneka ragam dan berbobot tidak mungkin dapat dipahami secara efektif oleh peserta didik, apabila disampaikan dengan metode-metode yang tidak tepat. Oleh karena itu penggunaan metode pembelajaran PAI harus memperhatikan cirri khas (kekhasan) masing-masing materi pelajaran, kondisi peserta didik serta persediaan sarana dan prasarana.

Proses belajar mengajar PAI di SMP NU 09 Rowosari dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode yang disesuaikan dengan materi pelajaran. Adapun metode yang digunakan guru PAI antara lain.

a Metode Ceramah

Metode ceramah bertujuan untuk memberikan pemahaman, menyampaikan informasi/uraian tentang suatu pokok persoalan kepada peserta didik tentang materi pelajaran secara lisan.

b Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab ini digunakan untuk membangkitkan pemikiran peserta didik baik untuk bertanya maupun untuk menjawab sehingga proses belajar mengajar lebih dialogis, tercipta suasana belajar yang menyenangkan, tidak kaku dan membosankan.

c Metode Demontrasi

Metode demontrasi adalah metode yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian/memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada peserta didik. Seperti materi sholat fardlu, menyelenggaraan sholat jenazah dan lain-lain.

d Metode Hafalan

Dalam proses belajar mengajar PAI di kelas VII, metode hafalan sering digunakan dalam materi BTA/surat pendek yang menuntut hafalan sebelum sampai pada tahap pemahaman dan pengeksplorasian. Metode ini sangat efektif untuk mencapai pada tahapan dimana peserta didik menguasai materi Al-Qur’an.

e Metode Tugas

Pemberian tugas Kegiatan interaksi belajar mengajar di sekolah sangat terbatas karena banyaknya kegiatan pendidikan sekolah, lebih-lebih pada kelas di mana waktunya sangat singkat (dipercepat). Bila hanya mengandalkan seluruh jam pelajaran, tidak akan terselesaikan tuntutan banyaknya materi pelajaran. Oleh karena itu, perlu diberikan tugas yang dikerjakan diluar jam pelajaran.[7]

Pada dasarnya metode-metode tersebut diatas tidak berbeda jauh dengan metode-metode yang diterapkan di kelas reguler, hanya saja untuk metode tugas intensitas penerapannya lebih banyak di kelas.

Dalam pelaksanaan metode-metode di atas sangat membantu dalam menyampaikan materi kepada peserta didik, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif bahkan dengan metode-metode tersebut materi menjadi tidak sulit untuk dipahami.

3. Media Pembelajaran PAI

Di samping penentuan metode pembelajaran, untuk menunjang percepatan belajar harus memperhatikan media belajarnya. Media merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar yang merupakan proses komunikasi antara guru dan murid yang keduanya saling bertukar pikiran untuk menyelesaikan mengembangkan ide dan pengertian kadang timbul penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tidak berjalan efektif. Hal ini antara lain disebabkan olah adanya kecenderungan verbalisme, ketidaksiapan peserta didik, kurangnya minat dan lain-lain. Penggunaan media secara integrasi dari proses belajar mengajar dapat sebagai untuk mengatasi keadaan demikian.

Pemilihan media pembelajaran PAI harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran agama itu sendiri, materi yang akan disampaikan, ketersediaan alat yang tersedia, pribadi guru, minat dan kemampuan peserta didik dan situasi pembelajaran yang akan berlangsung.

Dalam proses belajar mengajar di kelas, guru masih kurang melibatkan media. Media yang digunakan masih terbatas pada media whiteboard, alat peraga, gambar dan lain-lain. Sedangkan untuk media yang bersifat audio visual yang telah disediakan oleh pihak sekolah masih kurang digunakan. Hal ini terjadi dengan asumsi bahwa meskipun hanya dengan media visual tersebut atau bahkan tidak menggunakan media, peserta didik sudah bisa memahami materi yang diajarkan, sehingga tidak perlu menggunakan media yang muluk-muluk[8]

Karena bagaimanpun media bukan sekedar upaya untuk membantu guru dalam mengajar, tetapi lebih dari itu sebagai usaha yang ditujukan untuk memudahkan peserta didik dalam mempelajari pengajaran agama.

4. Strategi Belajar Mengajar

Dalam pelaksanaan strategi belajar mengajar akan dijelaskan tentang alokasi waktu, metode yang diterapkan dan evaluasi yang akan dilaksanakan dalam program akselersi di SMP NU 09 Rowosari sebagai berikut :

a) Alokasi Waktu Belajar

Alokasi waktu belajar untuk program pada dasarnya sama dengan kelas reguler. Setiap mata pelajaran alokasi waktunya 40 menit dan di laksanakan dalam 6 hari belajar. Aturan penentuan jam pelajaran sebagai berikut :

q Hari Senin sampai Kamis jumlah jam mata pelajaran 8 jam pelajaran setiap harinya dengan ketentuan waktunya pukul 07. 00 s.d. 12.40

q Hari Jum’at jumlah jam pelajaran 6 jam pelajaran dengan ketentuan waktu dari pukul 07.00 s.d. 11.10

q Hari Sabtu jumlah jam pelajaran 4 jam pelajaran dengan ketentuan waktu dari pukul 07.00 s.d. 09.50

b) Sistem Evaluasi Belajar

Evaluasi yang dilakukan untuk peserta didik pada program pada dasarnya sama dengan program reguler, yaitu untuk mengukur ketercapaian materi (daya serap). Dalam program ini sebaiknya sejalan dengan prinsip belajar tuntas. Adapun sistem evaluasi yang ada di kelas meliputi ulangan harian, setiap semester minimal 2 kali ulangan harian dengan menitikberatkan pada soal uraian, ulangan semester diberikan lebih cepat dibandingkan peserta didik kelas regular, sesuai dengan kalender pendidikan. Soal disusun oleh guru mata pelajaran bersangkutan dengan menyusun kisi-kisi serta materi-materi yang penting.

c) Laporan Hasil Belajar

Buku laporan pendidikan atau rapor peserta didik kelas program belajar kelas unggulansama dengan rapor peserta didik kelas reguler, hanya waktu pembagian laporan hasil pendidikan lebih cepat dibandingkan kelas regular. Jika program regular rapor dibagikan setiap minggu ke empat belas maka untuk kelas dibagikan pada minggu ke-9.

5. Kondisi Kelas

a. Aktifitas peserta didik

Para peserta didik menunjukkan perhatian dan keseriusannya dalam mengukuti pembelajaran PAI, indikasi yang dapat dilihat adalah ketika bel masuk berbunyi peserta didik langsung memfokuskan pada pelajaran tersebut yaitu dengan menyiapkan alat-alat belajar.

Keseriusan dan semangat yang tinggi dari kelas ini memang tidak diragukan, karena mereka berfikir bahwa pelajaran agama sama pentingnya dengan pelajaran umum, tidak seperti kebanyakan peserta didik yang terkadang menganggap remeh dan lebih mementingkan pelajaran umum dari pada pelajaran agama.

b. Hubungan pribadi guru dan peserta didik

Mengenai posisi dan peranan guru dalam proses belajar mengajar, bentuk hubungan guru dan peserta didik adalah demokrasi. Guru PAI dipastikan hafal secara keseluruhan nama-nama peserta didik di kelas hal ini merupakan awal yang baik untuk membina hubungan guru dan peserta didik.

Dalam proses belajar mengajar guru PAI mengelola interaksi dalam kelas secara adil, tidak pernah membeda-bedakan/pilih kasih terhadap peserta didik seperti contoh ketika kebetulan guru memberikan pertanyaan/ mengecek hafalan suatu surat, yang dilakukan guru dengan memilih secara acak tidak ada tendensi apapun.

C. Problem Pembelajaran PAI di SMP NU 09 Rowosari

Setiap gerak langkah manusia senantiasa dirintangi oleh kesulitan-kesulitan yang menghadangnya, kapan dan dimana saja setiap berlangsungnya proses pendidikan sudah barang tentu akan menemukan kendala-kendalanya. Program belajar yang merupakan inovasi baru dalam dunia pendidikan tentu tidak luput dari kendala-kendala untuk menuju suatu pembelajaran efektif.

Substansi dari program belajar kelas unggulanadalah pembelajaran yang dipercepat dari waktu yang sebenarnya/waktu normal. Jika dikelas reguler 9 pokok bahasan materi PAI setiap semesternya diselesaikan dalam waktu 18 x 2 jam pelajaran, tetapi di kelas harus diselesaikan dalam waktu 14 x 2 jam pelajaran, alokasi waktu tatap muka yang begitu singkat, maka proses pembelajaran juga harus dipercepat agar materi dapat terselesaikan.

Adapun kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran PAI di kelas program belajar kelas unggulanini adalah:

1. Minimnya alokasi waktu.

Waktu yang begitu singkat, sehingga proses belajar mengajar terkesan tergesa-gesa.[9] Selain itu masih kurangnya jam pengayaan atau remidiasi untuk pelajaran PAI, karena yang terjadi di sekolah ini ketika diluar jam pelajaran (setelah sekolah) sudah dipakai untuk mata pelajaran yang lain. Sehingga ketika ada hari libur mata pelajaran PAI tidak bisa mengganti jam tersebut.

2. Kebanyakan peserta didik tidak memiliki background agama yang cukup.

Kemampuan dasar peserta didik tentang ilmu agama juga sangat berpengaruh dalam rangka proses belajar mengajar PAI, yang secara langsung hal ini akan selalu bersinggungan dengan materi yang akan disampaikan.

3. Siswa belum cukup memahami dan mengerti baca tulis Al Qur’an.

Secara umum, kemampuan peserta didik berbeda satu dengan lainnya terutama dalam hal mengenal dan memahami huruf Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan kondisi peserta didik yang sangat beragam.

4. Kurangnya minat peserta didik mengenai mata pelajaran PAI.

Setiap peserta didik sudah barang tentu memiliki kesukaan terhadap mata pelajaran. Hal inilah yang menyebabkan daya minat peserta didik terhadap mata pelajaran PAI menurun, hal ini dikarenakan guru kurang tepat menggunakan metode dalam meyampaikan mataeri dalam kelas. Selain itu guru seharusnya bertindak pro aktif terhadap permasalahan ini, dengan cara meyiapkan trik yang menantang dan menyenangkan tentang materi PAI, agar peserta didik menjadi tertarik untuk mengikuti pelajaran PAI.

5. Kurangnya persiapan guru dalam menyampaikan materi dalam kelas.

Sebagai seorang guru mau tidak mau, persiapan akan materi yang akan disampaikan harus menjadi prioritas. Sebab kalau tidak, materi yang disampaikan akan tidak sesuai dengan silabus dan akan sangat membingungkan peserta didik.

6. Kurangnya perhatian orang tua peserta didik terhadap peran PAI terhadap perilaku peserta didik.

Biasanya hal yang paling diperhatikan orang tua terhadap perkembangan sekolah peserta didik adalah pada mata pelajaran umum yakni ; Matematika, Bahasa Inggris, dll. Pada hal ada mata pelajaran yang lebih memiliki fungsi yaitu sebagai pembinaan akhlak peserta didik. Hal ini dikarenakan, kurangnya pemahaman akan pentingnya peran PAI bagi pola kehidupan peserta didik.

7. Munculnya pemahaman dari guru dan peserta didik tentang PAI sebagai pelajaran kelas dua dibanding dengan pelajaran umum yang lain.[10]

Penilaian terhadap PAI sebagai second class terhadap pelajaran umum sudah menjadi hal yang harus diubah. Seorang guru terutama guru PAI harus dapat meyakinkan bahwa PAI memiliki peran dan efek positif bagi perkembangan peserta didik, terutama aspek mental.

D. Solusi Pembelajaran PAI di SMP NU 09 Rowosari.

Dari hasil wawancara dengan guru PAI yaitu bapak Drs. Ghofirin dan bapak Drs. H. Mahlum mengenai problem pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa solusi yang tepat untuk mengatasi problem pembelajaran tersebut adalah:

1) Pihak sekolah hendaknya memberikan jam tambahan pada hari sabtu atau setelah jam pelajaran selesai dilaksanakan.

Agar proses pembelajaran yang dipercepat tersebut tidak terkesan tergesa-gesa dan materi dapat terselesaikan sehingga menghasilkan prestasi yang optimal sesuai dengan target, maka usaha yang dilakukan guru PAI adalah sebagai berikut:

a. Menyampaikan materi dengan dua cara yaitu:

Ø Materi yang disampaikan guru dalam proses belajar mengajar di kelas

Ø Materi yang menjadi tugas murid untuk mempelajarinya sendiri di rumah, guru hanya mengecek pemahaman pada pertemuan berikutnya dengan metode tanya jawab maupun diskusi.

b. Jika ada tugas rumah untuk peserta didik, guru hanya mengecek tugas tersebut pada beberapa peserta didik secara acak, misalnya tugas hafalan bacaan sholat, sehingga menghabiskan waktu terlalu banyak dan bisa melanjutkan kemateri selanjutnya.

2) Untuk mengetahui seberapa dalam kemampuan peserta didik tentang ilmu agama yang secara cukup solusi yang berikan adalah dengan terapi psikologi yakni mujahadah Asmaul Husna, selain itu juga diharapkan peserta didik agar dapat memanfaatkan referensi perpustakaan sebagai wahana penambah wawasan ilmu keagamaan.

3) Pihak sekolah dan guru agama setidaknya memberikan jam khusus yakni untuk pembelajaran BTA, memeberikan tugas untuk menghafal ayat-ayat pendek, serta bagi peserta didik yang dianggap memiliki nilai lebih dibanding peserta didik yang lain dapat diberikan tambahan pelajaran tentang ilmu tajwid.[11]

4) Pihak sekolah (Kepala Sekolah, Guru) harus berusaha meyakinkan terhadap peserta didik bahwa PAI adalah salah satu mata pelajaran yang harus difavoritkan peserta didik, dengan alasan bahwa PAI merupakan salah satu hal pokok pertimbangan kenaikan kelas atau jenjang yang lebih tinggi.

5) Untuk mengawali pelajaran yang membuat peserta didik tertarik dengan PAI, guru PAI harus menyiapkan materi PAI yang relevan dengan kondisi diera sekarang. Misalnya dengan menyajikan contoh-contoh yang dapat menarik simpati peserta didik akan mata pelajaran PAI.

6) Langkah awal untuk meyakinkan wali murid terhadap mata pelajaran PAI adalah dengan cara menunjukkan olah hasil pembelajaran PAI serta peran, manfaat serta efek positif yang timbul setelah mata pelajaran PAI disampaikan dengan metode yang tepat. Setelah itu, konsekuensi sebagai pihak akademik sekolah adalah mewajibkan atau menginstruksikan kepada peserta didik agar mengikuti program jam tambahan mata pelajaran PAI.

7) Wacana tentang hal yang berkait dengan masalah agama menduduki kelas dua setelah kelas lain, termasuk mata pelajaran PAI. Perlu kita sadari bersama kalau diteliti secara rinci tentu akan tampak bahwa setiap sistem tidak akan mampu berdiri sendiri, harus ada sistem pendukung yang lain. sama halnya antara PAI dengan mata pelajaran umum, tidak akan mampu memberikan nilai positif peserta didik tanpa adanya keterkaitan satu dengan yang lain. Upaya yang harus dilakukan guru PAI adalah harus pandai memilih metode yang tepat dan tidak membosankan, hal ini agar peserta didik dapat menerima materi yang disampaikan dengan senang dan gembira.


[1] Diringkas dari profil SMP NU 09 Rowosari data dari proposal proyek pengembangan SMP NU 09 Rowosari 2005.

[2] Observasi, Batas-batas Sekolah SMP NU 09 Rowosari, 10 Maret 2008

[3] Dokumen, SMP NU 09 Rowosari, 10 Maret 2008.

[4] Dokumen SMP NU 09 Rowosari, 15 Maret 2008.

[5] Wawancara dengan bapak Drs. Ghofirin pada hari sabtu, 15 Maret 2008 dan wawancara dengan Drs. H. Mahlum pada hari senin, 17 Maret 2008.

[6] Observasi, Jum`at, 21 Maret 2008.

[7] Interview, Guru PAI (bapak Drs. H. Mahlum), Sabtu, 15 Maret 2008.

[8] Interview, Guru PAI (bapak Drs. H. Mahlum), Sabtu, 15 Maret 2008.

[9] Interview, Guru PAI (bapak Drs. H. Mahlum), Senin, 17 Maret 2008.

[10] Hasil wawancara dengan Bapak Drs. Ghofirin tanggal 15 Maret 2008.

[11] Hasil wawancara dengan bapak Drs. H. Mahlum, tanggal 28 Maret 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s